Jumat, 20 Juni 2008

PERBEDAAN ADSORSPSI PHENOL ARANG TEMPURUNG KELAPA DGN ARANG SONO

BAB 1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu indikator kemajuan suatu masyarakat. Faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat diantaranya perilaku, lingkungan, keturunan, dan pelayanan kesehatan. (Blum,1976 )
Faktor penting dan dominan dalam penentuan derajat kesehatan masyarakat adalah keadaan lingkungan. Salah satu komponen lingkungan yang mempunyai peranan yang cukup besar adalah air. Air sebagai sumber daya alam, sangat penting dan mutlak diperlukan semua makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan.(Manik, 2003).
Air dan kesehatan merupakan dua yang saling berhubungan. Kualitas air yang dikonsumsi masyarakat dapat menentukan derajat kesehatan masyarakat tersebut. Selain bermanfaat bagi manusia, air juga merupakan media penularan penyakit berbahaya bagi manusia. Air kotor merupakan tempat yang nyaman untuk berkembang biak berbagai bakteri dan virus penyebab penyakit. Bibit penyakit menular yang berkembang biak melalui perantara air antara lain kolera, disentri, dan typhus. Selain itu, tingginya tingkat pencemaran akibat perkembangan industri juga menjadi penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Limbah industri yang mencemari air mengandung beberapa racun dan senyawa kimia yang sangat berbahaya apabila terminum oleh manusia. Bahaya atau penyakit yang dapat ditimbulkan oleh air yang tercemar antara lain keracunan, kanker, dan beberapa penyakit lainnya. (Alamsyah Sujana, 2006).
Kebutuhan akan air ini amat mutlak karena zat pembentuk tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air, yang jumlahnya sekitar 73 % dari bagian tubuh tanpa jaringan lemak. Jika tubuh kehilangan air hanya 5 % saja dari berat badan maka akan membahayakan bagi kehidupan karena dapat menyebabkan dehidrasi berat. (Azwar, Azrul, 1996 ).
Bagi manusia air berperan dalam pemenuhan kebutuhan dalam kegiatan pertanian, industri dan digunakan dalam kehidupan sehari - hari (Kusnaedi, 2000).Untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, air yang digunakan harus memenuhi syarat dari segi kuantitas maupun kualitasnya.Kuantitas air harus mencukupi jumlahnya untuk kebutuhan air. Di Negara Indonesia, untuk kebutuhan rumah tangga penduduk pedesaan memerlukan air 40 – 50 liter/ hari/ jiwa, sedangkan penduduk di perkotaan lebih banyak menggunakan air, yaitu 80-100 liter/hari/jiwa.(Manik, 2003).
Pada masa mendatang berbagai kegiatan pembangunan dan kemajuan industri makin memerlukan banyak air dengan kualitas tertentu. Dari segi kualitas air harus memenuhi syarat kesehatan yang meliputi persyaratan fisik, kimia, mikrobiologi dan radioaktif sebagaimana yang tercantum dalam Permenkes No.907/MENKES/PER/VII/2002 tentang syarat - syarat dan pengawasan kualitas air minum. Penyimpangan dari persyaratan kualitas air akan mengakibatkan gangguan kesehatan, gangguan teknis dan gangguan dari segi estetika.
Komponen-komponen organik diantaranya adalah phenol yang terdapat dalam limbah cair sebagai hasil buangan dari industri penyulingan minyak bumi, gas , farmasi, tekstil, indutri rumah tangga.
Berdasarkan pengamatan peneliti saat ini di kota / kabupaten Kediri saat ini sudah mulai banyak berdiri perusahaan, industri , rumah sakit, balai pengobatan, rumah bersalin yang sangat berpotensi menghasilkan limbah yang mengandung bahan kimia berbahaya . juga penggunaan bahan – bahan pembersih lantai pada rumah tangga yang kemungkinan terjadinya pencemaran phenol pada lingkungan domestic.
Bahan - bahan yang terkandung dalam air tersebut apabila dibuang disungai atau dibiarkan tanpa pengelolaan yang baik dan benar tentunya akan sangat berbahaya karena dapat menyebabkan pencemaran atau menurunnya kualitas air. Keberadaan zat kimia dalam air tertentu membahayakan orang yang mengkonsumsinya. Phenol dengan kadar tertentu bisa bersifat racun racun dalam tubuh, meski dalam dosis kecil, namun dapat menimbulkan keracunan akumulasi dalam jaringan tubuh akan menganggu fungsi ginjal, lambung dan merapuhkan tulang (Environment Parliament Watch (EPW) )
Penelitian yang dilakukan Meilita Triana Sembiring, dan Tuti Sarma Sinaga, (2003). Menyimpulkan bahwa arang aktif dapat mengadsorbsi gas dan senyawa – senyawa kimia tertentu atau sifat adsorpsinya selektif, tergantung pada besar atau volume pori – pori, luas permukaan dan bahan baku yang digunakan. Daya serap arang aktif sangat besar, yaitu 25 – 100 % terhadap senyawa organik / anorganik.
Proses adsorpsi ini seringkali menggunakan karbon aktif yang mempunyai kemampuan yang cepat dalam mengadsorpsi zat organik dan zat an organik. Arang aktif ini banyak kita jumpai disekitar kita atau di pasaran. Bahan baku yang digunakanpun beragam, ada yang terbuat dari kayu lamtoro gung, kayu sono, kayu mauni, tempurung kelapa dan bahan baku yang mempunyai struktur keras. (Hari Rudijanto I.W.,2002).
Proses adsorpsi adalah merupakan salah satu cara untuk melakukan pengolahan air yang mengandung bahan organik. Saringan butir arang aktif digunakan juga untuk menghilangkan senyawa-senyawa yang menimbulkan bau dan rasa pada air minum, demikian pula warna, senyawa kimia organik sintetik yang diduga sebagai bahan karsinogenik. Bau dan rasa biasanya terjadi bersama – sama dan biasanya disebabkan oleh adanya bahan – bahan organik yang membusuk, tipe - tipe tertentu organisme mikroskopik,serta persenyawaan kimia seperti phenol (Sutrisno, Suciastuti. 2004).
Berdasarkan pendapat, hasil penelitian dan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya maka kemampuan arang aktif yang berfungsi sebagai adsorben akan dicoba dalam penelitian ini. Adsorben yang sering digunakan adalah tanah pemucat dan karbon aktif. Karbon aktif sangat baik digunakan sebagai adsorben pada larutan yang mengandung gugus karboksil, phenol, karbonil, normal laktom dan Asam karboksilat anhidrida. Karbon aktif yang sering digunakan dengan bahan baku batubara, tempurung kelapa, dan bahan kayu yang berstuktur keras. (Sumardi, 2007).
Pada percobaan awal didapatkan fakta bahwa arang dapat menyerap phenol hingga 50 % . Kemudian pada studi pendahuluan didapatkan ternyata air sungai didepan kampus Stikes Surya Mitra Husada mengandung Phenol 0.07 mg/l, jumlah ini ini sangat tinggi sekali jika dibandingkan dengan baku mutu disyaratkan dalam Permenkes No.907/MENKES/PER/VII/2002. yaitu : 0.01 mg/l. maka dari itulah peneliti ingin membandingkan kemampuan dari 2 macam arang yaitu Arang Tempurung Kelapa (ATK) dan Arang Sono ( AS) dalam mengadsorpsi kandungan phenol.
Bertitik tolak dari uraian tersebut diatas maka dilakukan penelitian tentang “PERBEDAAN ADSORPSI PHENOL ARANG TEMPURUNG KELAPA DENGAN ARANG KAYU SONO “
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Berapa kemampuan adsorpsi arang tempurung kelapa dalam menurunkan senyawa organik yaitu phenol ?
2. Berapa kemampuan adsorpsi arang sono dalam menurunkan senyawa organik yaitu phenol ?
3. Apakah ada perbedaan diantara dua arang tersebut dalam menurunkan senyawa organik yaitu phenol?



C. TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui jenis arang yang paling efektif dalam menurunkan kadar phenol dalam air.
2. Tujuan Khusus
a. Mengukur kemampuan adsorpsi arang tempurung kelapa dalam menurunkan senyawa organik yaitu phenol
b. Mengukur. kemampuan adsorpsi arang sono dalam menurunkan senyawa organik yaitu phenol
c. Membandingkan kemampuan adsorpsi arang tempurung kelapa dan arang sono dalam menurunkan senyawa organik yaitu phenol

D. MANFAAT PENELITIAN
1. .Manfaat bagi peneliti.
Dengan melakukan penelitian ini, peneliti lebih memahami tentang sistem penyaringan air dengan media adsorpsi arang aktif
2. Manfaat bagi masyarakat.
a Sebagai bahan masukan kepada masyarakat tentang penyaringan dengan karbon aktif dalam rangka mendapatkan air bersih yang memenuhi syarat.
b Sebagai cara / alternatif bagi masyarakat yang ingin melakukan proses penyaringan air dengan biaya yang murah .

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A. LANDASAN TEORI
1. Pengertian air bersih
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari – hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak, sedangkan air minum adalah air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.( Permenkes No.907/MENKES/PER/VII/2002).
Air merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia, selain berperan dalam metabolis.
me, air juga digunakan untuk industri, perdagangan, rekreasi, sumber tenaga dan lain-lain. Semakin maju tingkat kehidupan semakin meningkat pula konsumsi air untuk kehidupan sehari-hari. Pentingnya air dalam tubuh dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Apabila tubuh tidak cukup mendapatkan air atau kehilangan air sebanyak 5 % dari berat badan akan membahayakan kesehatan, namun bila kekurangan air lebih dari 20 % akan menimbulkan kematian.
b. Dalam air terdapat unsur-unsur kimia yang dalam batas-batas tertentu membantu proses metabolisme.
c. Disamping itu air mempunyai peranan yang sangat besar dalam penularan penyakit karena air sebagai tempat berkembangbiak dan tempat tinggal sementara bagi mikroorganisme.
2. Standar Kualitas Air
Menurut Sanropie,Djasio,dkk,(1984) disebutkan bahwa standar kualitas air dapat diartikan sebagai ketentuan-ketentuan yang biasanya dituangkan dalam bentuk pernyataan atau angka yang menunjukkan persyaratan - persyaratan yang harus dipenuhi agar air tersebut tidak menimbulkan gangguan kesehatan, penyakit, gangguan tehnis, gangguan dalam segi estetika.
Standar adalah ketentuan-ketentuan kualitas yang mengacu pada keselamatan manusia. (Margono, 2002 ).
Dari kedua pengertian tersebut dimaksudkan dalam menangani masalah penyediaan air minum maupun air bersih diperlukan adanya standar kualitas berupa ketentuan-ketentuan dalam bentuk persyaratan atau angka yang harus dipenuhi agar pemakaian air tersebut tidak menimbulkan gangguan kesehatan, penyakit, tehnis dan estetika.
Dengan adanya standar kualitas, orang dapat mengukur kualitas air dari berbagai macam air, setiap jenis air dapat diukur konsentrasi kandungan unsur-unsur di dalamnya. Selanjutnya konsentrasi unsur-unsur tersebut dibandingkan dengan konsentrasi unsur yang tercantum dalam standard dan dapat diketahui syarat kualitas. Dengan kata lain standar kualitas dapat digunakan sebagai tolak ukur.
3. Persyaratan Kualitas Air Minum
Untuk memenuhi kebutuhan akan air, maka air tersebut harus memenuhi persyaratan kualitas yang telah ditetapkan oleh pemerintah, dalam hal ini adalah Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Permenkes No.907/MENKES/PER/VII/2002 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air minum .

B. URAIAN TENTANG ARANG AKTIF
1. Sejarah Singkat Penggunaan Arang Aktif
Sejak perang dunia pertama arang aktif produksi dari peruraian kayu sudah dikenal sebagai adsorben atau penyerap yang afektif sehingga banyak dipakai sebagai adsorben pada topeng gas.
Pada abad XV arang aktif sudah dipakai sebagai penghilang bahan pewarna dari larutan. Meskipun pada waktu itu belum dilakukan untuk dikomersialkan secara besar-besaran. Pada tahun 1811, Dehlke seorang sarjana dari Jerman menemukan bahwa arang aktif dapat digunakan sebagai penyaring yang sangat berguna untuk pengolahan air minum. (Meilita S, 2003).
Dalam perkembangan penggunaan arang aktif semakin luas seperti pada tahun 1910 di Inggris digunakan untuk menghilangkan adanya khlor yang menyebabkan bau dan rasa dalam air minum.
2. Pengertian Arang Aktif
Arang aktif adalah bahan berupa karbon bebas atau arang yang telah dibuat dan diolah secara khusus melalui proses aktifasi, sehingga pori-porinya terbuka dan dengan demikian mempunyai daya serap yang besar terhadap zat-zat lainnya, baik dalam fase cair maupun dalam fase gas. (Meilita S, 2003).
Komposisi arang aktif terdiri dari silika (SiO2), karbon, kadar air dan kadar debu. Unsur silika merupakan kadar bahan yang keras dan tidak mudah larut dalam air, maka khususnya silika yang bersifat sebagai pembersih partikel yang terkandung dalam air keruh dapat dibersihkan sehingga diperoleh air yang jernih.
Bahan arang aktif dapat diperoleh dari bahan buangan serbuk kayu, tempurung kelapa yaitu dibuat melalui proses pembakaran secara karbonisasi (aktifasi) dari semua bahan yang mengandung unsur karbon dalam tempat tertutup dan dioksidasi/ diaktifkan dengan udara atau uap untuk menghilangkan hidrokarbon yang akan menghalangi/ mengganggu penyerapan zat organik (Steel,E.W and Terrence J. Mc Ghee,1979 ).
Arang aktif mempunyai warna hitam, tidak berasa dan tidak berbau, berbentuk bubuk dan granular, mempunyai daya serap yang jauh lebih besar dibandingkan dengan arang yang belum mengalami proses aktifasi, mempunyai bentuk amorf yang terdiri dari plat-plat dasar dan disusun oleh atom-atom karbon C yang terikat secara kovalen dalam suatu kisi yang heksagon. Plat-plat ini bertumpuk satu sama lain membentuk kristal-kristal dengan sisa-sisa hidrokarbon yang tertinggal pada permukaan. Dengan menghilangkan hidrokarbon tersebut melalui proses aktifasi, akan didapatkan suatu arang atau karbon yang membentuk struktur jaringan yang sangat halus atau porous sehingga permukaan adsorpsi atau penyerapan yang besar dimana luas permukaan adsorpsi dapat mencapai 300-3500 cm2/gram. (Balai Penelitian Dan Pengembangan Industri Manado, 1988).


3. Bentuk Arang Aktif
Ada 2 tipe arang aktif yang biasa digunakan dalam praktek pengolahan air minum yaitu :
a. Karbon aktif berbentuk bubuk.
b. Karbon aktif berbentuk butiran atau granular.
Karbon aktif berbentuk bubuk merupakan bubuk hitam yang dimasukkan dalam keadaan kering atau sebagai bubur. Dosis yang digunakan umumnya antara 1-100 ppm. Arang aktif bentuk butiran digunakan sebagai lapisan dengan diameter > 0,1 mm. (Metcalf and Eddy,1972).
4. Keuntungan Penggunaan Arang Aktif
Keuntungan-keuntungan penggunaan arang aktif dalam praktek pengolahan air minum dalam buku “Water Supplay Engineering”, (Dolland, James J, 1971) disebutkan antara lain :
a. Tidak ada penambahan bahan kimia dalam air yang akan disaring.
b. Dosis yang berlebihan tidak akan membahayakan.
5. Pembuatan Arang Aktif
Dalam penelitian ini digunakan 2 jenis arang yaitu : Arang Tempurung Kelapa dan Arang Sono. Arang dibuat dengan cara karbonisasi/ pengarangan. Sedangkan pengarangan adalah proses perombakan bahan-bahan organik yang mengandung unsur karbon oleh panas, dengan panas tertentu.
Arang aktif dibuat pertama dengan membuat arang dari bahan kayu atau bahan lain, kemudian dilanjutkan dengan pemanasan sampai menjadi merah untuk menghilangkan hidrokarbon dengan menghindari pengaliran udara selama pembakaran. Selanjutnya bahan diaktifkan dengan memaparkan terhadap gas pada temperatur yang tinggi. Gas ini akan meluas kelubang-lubang (pori- pori), selanjutnya akan membentuk suatu penebalan permukaan. Permukaan yang terjadi menunjukkan jenis dari bahan yang digunakan dan prosedur yang digunakan. Jenis dan bahannya mempengaruhi penyebaran pori-pori yang terjadi. (Metcalf and Eddy, 1976).
6. Penyerapan Bahan - bahan Terlarut Dengan Arang Aktif
Untuk menghilangkan bahan-bahan terlarut dalam air, biasa menggunakan arang aktif dengan mengubah sifat permukaan partikel karbon melalui proses oksidasi. Partikel ini akan menyerap bahan-bahan organik dan akan terakomulasi pada bidang permukaannya. Pada umumnya ion organik dapat diturunkan dengan arang aktif ( R.D. Rose. 1987).
Adsorpsi oleh arang aktif akan melepaskan gas, cairan dan zat padat dari larutan dimana kecepatan reaksi dan kesempurnaan pelepasan tergantung pada pH, suhu, konsentrasi awal, ukuran molekul, berat molekul dan struktur molekul. Penyerapan terbesar adalah pada pH rendah (Steel, E.W and J. Mc Ghee ,1995).
Dalam Laboratorium Manual disebutkan bahwa pada umumnya kapasitas penyerapan arang aktif akan meningkat dengan turunnya pH dan suhu air. Pada pH rendah aktifitas dari bahan larut dengan larutan meningkat sehingga bahan-bahan larut untuk tertahan pada arang aktif lebih rendah. Dalam Advanced Waste Water Treatmen (Rusel, 1978) disebutkan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan penyerapan arang aktif sebagai berikut :
a. Bahan dasar yang digunakan.
b. Sifat dari arang sendiri.
c. Sifat dan konsentrasi bahan terlarut.
d. Sifat air seperti pH dan kekeruhan.
e. Sistem penambahan dan cara pelaksanaan.
C. SIFAT ADSORPSI ARANG AKTIF
Proses adsorpsi arang aktif dapat digambarkan sebagai molekul yang meninggalkan zat pengencer yang terjadi pada permukaan zat padat melalui ikatan kimia maupun fisika. Molekul tersebut digunakan sebagai adsorbat dan zat padat disebut adsorben arang aktif.
Adapun adsorpsi yang terjadi pada arang aktif dapat bersifat (Farid Effendi, 1986):
1. Adsorpsi Fisika
Adsorpsi fisika terjadi berdasarkan ikatan fisika antara zat-zat dengan arang aktif dalam keadaan suhu rendah dengan penyerapan relative kecil.
2. Adsorpsi Kimia
Adsorpsi kimia terjadi berdasarkan ikatan kimia antara adsorben (arang aktif) dengan zat-zat teradsopsi. Dijelaskan pula bahwa bahan dalam larutan yang bersifat elektrolit akan diserap lebih efektif dalam suasana basa oleh arang aktif. Sedangkan bahan dalam larutan yang bersifat non elektrolit penyerapan arang aktif tidak dipengaruhi oleh sifat keasaman atau sifat kebasaan larutan.
Secara garis besar penyerapan arang aktif terhadap zat yang terlarut adalah :
1. Zat teradsorpsi berpindah dari larutannya menuju lapisan luar dari adsorben (arang).
2. Zat teradsorpsi diserap oleh permukaan arang aktif.
3. Zat teradsorpsi akhirnya diserap oleh permukaan dalam atau permukaan porous arang.
Adapun secara umum faktor yang menyebabkan adanya daya serap dari arang aktif adalah :
1. Adanya pori-pori mikro yang jumlahnya besar pada arang aktif sehingga menimbulkan gejala kapiler yang menyebabkan adanya daya serap.
2. Adanya permukaan yang luas (300 – 3500 cm2/gram) pada arang aktif sehingga mempunyai kemampuan daya serap yang besar.






D. ADSORPSI
Pengertian adsorpsi :
1. Adsorpsi merupakan substance pada permukaan akibat gaya atraksi dimana luas permukaan utama berlokasi di dalam pori (Culp and Culp, 1974).
2. Adsorpsi merupakan akumulasi dari material-material pada interface, pada adsorpsi karbon aktif dalam cairan interfacenya adalah liquid – solid.
3. Adsorpsi adalah pengumpulan dari adsorbat diatas permukaan adsorben, sedang absorpsi adalah penyerapan dari adsorbat kedalam adsorben dimana disebut dengan fenomena sorption. Materi atau partikel yang diadsorpsi disebut adsorbat, sedang bahan yang berfungsi sebagai pengadsorpsi disebut adsorben (D. Reynold, 1982)
4. Adsorpsi adalah pengambilan molekul-molekul pada permukaan dalam (internal) dan luar adsorben (eksternal) dari padatan (Benefield, 1982)
Adsorpsi yang terjadi pada permukaan adsorben dapat berupa :
1. Adsorpsi fisika
2. Adsorpsi kimia
3. Adsorpsi isotherm
ad. 1. Adsorpsi Fisika
Adsorpsi ini mirip dengan proses kondensasi dan biasanya terjadi pada temperatur rendah pada proses ini gaya yang menahan molekul fluida pada permukaan solid relatif lemah, dan besarnya sama dengan gaya kohesi molekul pada fase cais (gaya van der wadls) mempunyai derajat yang sama dengan panas kondensasi dari gas menjadi cair, yaitu sekitar 2.19-21.9 kg/mol (Weber, 1972). Keseimbangan antara permukaan solid dengan molekul fluida biasanya cepat tercapai dan bersifat reversibel.
ad. 2. Adsorpsi kimia
Adsorpsi ini bersifat spesifik dan melibatkan gaya yang jauh lebih besar daripada Adsorpsi fisika. Panas yang dilibatkan adalah sama dengan panas reaksi kimia. Menurut Langmuir (Weber, 1972), molekul teradsorpsi ditahan pada permukaan oleh gaya valensi yang tipenya sama dengan yang terjadi antara atom-atom dalam molekul.
Karena adanya ikatan kimia maka pada permukaan adsorbent akan terbentuk suatu lapisan atau layer, dimana terbentuknya lapisan tersebut akan menghambat proses penyerapan selanjutnya oleh batuan adsorbent sehingga efektifitasnya berkurang.
E. URAIAN TENTANG PHENOL
1. Phenol (Hydroxy – Benzen)
Phenol merupakan senyawa organik dari golongan senyawa aromatik yang dirumuskan dengan :
Rumus kimia : C6H5OH
Bentuk bangun : – C = C (OH) – H


Sifat – sifat phenol :
- Sukar larut dalam air
- Phenol murni berbentuk kristal pada temperatur ruang, tidak berwarna dan berbau.
2. Limbah Phenol
Phenol dalam air limbah biasanya terdiri dari berbagai jenis hidroxy-benzen dan substitusi hydroxy-benzen. Bahan kimia ini ialah jenis yang paling banyak dijumpai sebagai polutan dalam industri, terutama industri kimia. Kegiatan atau aktivitas rumah tangga, industri dan aktivitas alamiah dapat menghasilkan limbah cair yang mengandung phenol. Metode untuk menentukan bahan kimia tersebut adalah dengan menggunakan 4-Amoni-antipyrene. Gas – liquid chromotography diperlukan untuk menentukan kadar phenol sebesar 1 mg/l atau kurang. Untuk menentukan kadar kuantitatif dapat dipakai Ultraviolet Spectroscopy.
Phenol terjadi sebagai salah satu komponen alamiah dalam buangan industri dari industri gas batu bara, kokas batu bara, industri minyak tanah atau industri rumah tangga sesuai dengan luasnya variasi buangan industri, berasal dari proses-proses yang menggunakan phenol sebagai bahan dasar.
Phenol apabila bereaksi dengan chlor dapat menimbulkan bau yang tidak enak. Konsentrasi standar maksimal yang ditetapkan oleh Depkes. RI untuk phenol adalah 0,001mg/l sebagai konsentrasi maksimal yang dianjurkan dan 0,002 mg/l untuk konsentrasi maksimal yang diperbolehkan.
3. Pengolahan Limbah Phenol
Pengolahan atau penghilangan limbah phenol dapat dibagi atas :
a. Metode untuk merecovery phenol
b. Metode untuk menurunkan kadar racunnya.
Kedua metode tersebut biasanya dikerjakan sekaligus, metode recovery yang dilanjutkan dengan pembuangan limbah kesaluran umum. Metode untuk menurunkan kadar racunnya dilakukan dengan oksidasi misalnya dengan hidrogen peroksida, kalium permanganat, belerang dioksida, ozon dan oksidasi biologis. Recovery phenol dilakukan apabila kadarnya dalam air limbah tinggi sekali dan operasi fisiknya dapat menggunakan cara-cara berikut :
a. Steam stripping atau Hot-gas stripping / pemanasan dengan gas.
b. Adsorption / ion exchange
c. Solvent extraction
ad. a. Steam das stripping
Limbah cair yang mengandung phenol distripping dengan steam pada suhu 1000C. Steam dan phenol yang menguap kemudian diadsorpsi dengan larutan 15 % NaOH secara reaksi kimia. Metode ini hanya baik untuk phenol kadar yang tinggi (sekitar 1000 mg/l) dalam air limbah, phenol tersebut akhirnya direcovery sehingga pencemaran dapat diakhiri.
ad. b. Adsorpsi / ion exchange
Adsorpsi phenol dapat menggunakan activated charcool, selain itu dapat juga menggunakan batu bara, arang aktif/ activated carbon, calsium carbonat, penghilangan phenol dengan activated carbon banyak dilakukan untuk kadar yang rendah.
ad. c. Solvent extraction
Ekstraksi phenol dengan solvent cocok digunakan untuk mengolah limbah yang kadar phenolnya sangat tinggi. Solvent yang dapat digunakan untuk ekstraksi phenol dapat dibagi sebagai berikut :
1) Benzene lingt-ter oil (5 gram = 0,95), Nephthulene freewash oil (Bp 220-280 c)
2) Hidrogenated-tar oils
3) Naphta and middle oil
4) Ester group yang mengandung tri-resilphosphate phenosolvon, dan lain-lain.
Dalam penelitian ini akan dilakukan dengan metode adsorpsi memakai karbon aktif dengan pertimbangan bahwa phenol yang akan diolah konsentrasinya relatif rendah antara 0,5-5 mg/l. selain itu dengan banyaknya bahan sebagai karbon ekonomis sebagai media pengolahan air untuk kebutuhan air bersih.


F. SIFAT RACUN PHENOL
1. Uraian Tentang Lisol
Sinonim : phenol, asam karbolat, hidroxibenzena, oxibenzena, asam fenat, asam fenilat, fenil hidroksida, kresol, karbol, kreolin, likresol.¬
Lisol banyak dipergunakan untuk keperluan rumah tangga sebagai pencegah hama (desinfektan) misalnya untuk membersihkan lantai, kamar mandi / WC dan untuk menghilangkan bau busuk. Juga sebagai antiseptik kuat, terutama sebagai cairan pencuci. Dalam bidang kesehatan dipergunakan sebagai antiseptik (pembasmi kuman), misalnya untuk mencuci lengan dengan konsentrasi larutan 1% - 2%. Larutan phenol mengandung pula unsur kamfer yang dapat bereaksi dengan fenol yang dapat menimbulkan keracunan pada kulit.
Senyawa phenol mudah di absorpsi melalui semua jalan masuk dan bahkan efek toksik dapat terjadi melalui sentuhan dengan kulit utuh. Sekitar 80 % dari zat kimia ini, diekskresikan,melalui ginjal baik sebagai zat aktif maupun sebagai glukuronid atau sulfat.
Pada keracunan ini biasanya tercium bau asam karbol yang kuat-melalui napas atau muntahan penderita.
2. Dosis toksis
Keracunan dapat terjadi karena tertelan atau melalui kulit. Dosis fatal rata - rata lebih kurang 15 g, tetapi pernah terjadi kematian disebabkan karena dosis sebesar 1 g. Keracunan fatal dapat juga terjadi karena serapan melalui kulit disebabkan karena penggunaan lokal topikal pada lokasi yang cukup luas.
3. Informasi Sifat Fisika Kimia
Lisol berupa masa hablur putih atau hablur mirip jarum tidak berwarna, rasa sangat membakar, bau khas aromatic, jika tidak murni atau karena pengaruh cahaya warna berubah menjadi merah jambu atau merah, yang dipercepat dalam keadaan alkalis. BJ 1,071. Jika bebas air dan kresol, phenol membeku pada suhu 41° dan melebur pada suhu 43°. Suhu lebur bahan ultramurni 40,85°. Biasanya phenol diperdagangkan dengan mutu teknik yang masih mengandung berbagai zat pengotor yang menaikkan suhu leburnya. Suhu didih 182°. Indeks bias 41°/D 1,5425. Menyerap air dari udara dan mencair. Phenol dapat dicairkan dengan lebih kurang 8% air. Larut dalam air, etanol, eter, gliserol, karbondisulfida, kloroform, minyak atsiri, minyak lemak, alkali dan vaselin, tidak larut dalam eter minyak tanah.
4. Bahaya utama lerhadap / kesehatan
a. Phenol (asam karbol) dalam berbagai cara masuk ke dalam tubuh dan mempunyai pengaruh yang buruk, karena phenol merupakan racun protoplasma (set-sel darah) atau bersifat racun terhadap sel-sel lainnya. Larutan phenol dengan kepekatan 10% sangat korosif dan menimbulkan nekrosis kulit.
b. Aborbsi usus akan terjadi setelah bahan larutan phenol berada dalam lambung beberapa jam kemudian.
c. Keracunan sistemik dari phenol, mula-mula merangsang dan kemudian menimbulkan depresi sistem syaraf pusat, hilangnya tonus, terhentinya pernafasan clan sistem sirkulasi jantung dan syok. Kematian disebabkan kegagalan nafas, biasanya terjadi antara 15 menit sampai beberapa hari, tetapi saat-saat kritis biasanya terjadi dalam jangka waktu 24 jam.
d. Dosis letal bagi orang dewasa 8 - 15 gram.
5. GAMBARAN KLINIS
a. Lokal pada kulit dan mukosa : gatal dan mati rasa (numbness) dan pada keadaan berulang atau berat: kemerahan, gatal dan luka bakar.
b. Pada pemaparan kronis pada kulit : eritema, vesikel dan akhirnya dapat mengalami dermatitis kontak. .
c. Jika terkena mata : iritasi konjungtiva, kornea berwarna putih dan edema palpebra dan iritis.
d. Efek sistemik : pada umumnya terdapat nyeri kepala, nausea, diare, lemah, pusing, dispnea, penglihatan kabur, nyeri abdomen, muntah dan panas. Gejala dapat sampai 6 hari setelah pemaparan.
Setelah penelanan ringan : pasien mengeluh perasaan tidak nyaman di
perut, nausea, muntah dan diare.
Jika konsentrasi phenol > 5% dapat menimbulkan luka bakar pada mulut dan esofagus.
Jika menelan phenol dengan kadar tinggi (misalnya 1 gr), mula-mula terjadi eksitasi transien yang segera diikuti kejang dan penurunan kesadaran, kolaps kardiovaskuler, aritmia jantung (takhikardi supra ventrikular dan ventrikular), syok dan gagal nafas,
Infeksi phenol dapat menyebabkan trombosis vena, neurolisis kimiawi, gangguan motoris berupa spastisitas, sklerosis multipel, cerebral palsy, ganggan otak atau serebrovaskuler.
Inhalasi klorokresol dapat menyebabkan facial palsy yang dapat membaik setelah pasien dijauhkan dari pemaparan.
Dapal pula terjadi sindroma syok toksik :
a. Efek pada sistim gastrointestinal : ulkus pada bibir dan mukosa pipi yang tidak terlalu nyeri. Karena bersifat korosif dapat terjadi kerusakan ujung-ujung saraf pada daerah yang terbakar. Dapat timbul nyeri abdomen, mual dan muntah serta perdarahan atau perforasi lambung yang membahayakan hidup penderita. Bila penderita sembuh, kemungkinan besar terjadi striktur, terutama di dalam esofagus.
b. Efek pada sistem syaraf pusat : pada fase awal terjadi stimulasi berupa keringat berlebih. Haus, nyeri abdomen, nyeri kepala, pusing dan telinga berdenging, kemudian diikuti depresi sistem syaraf pusat berupa penurunan kesadaran.
c. Efek pada sistem kardiovaskuler : hipotensi dan syok.
d. Efek pada ginjal: urine berwarna gelap karena hemoglobinuri. Dapat terjadi gagal ginjal akut.
e. Efek pada hati : kegagalan faal hati akut.
f. Efek pada sistem pernafasan : depresi pernafasan dan gagal nafas.
g. Efek pada sistem hematopoietik : methemoglobinemi, sianosis.
Pasien yang tidak diobati akan mengalami pemburukan berupa hipotensi, kejang, sianosis (sekunder dari hipoksia atau methemo-globinemi), respirasi lambat, hipotermi, edema paru, gagal nafas, anuria dan kematian.

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
LABORATORIUM : Hb, lekosit, trombosit, elektrolit, kreatinin, urea N, gula darah, analisa gas darah (alkalosis respiratorik dan pada keadaan berat menjadi asidosis metabolik, hipoksia).
a. Urine rutin : berwarna seperti asap, albuminuri, silinder dan eritrosit.
b. Phenol dapat terdeteksi dalam darah, jaringan dan urin.
c. Tingkat phenol normal dalam darah. .
1. Phenol bebas : 0 - 4 mg/dl
2. Phenol konjugat : 0,1 -2,O mg/dl
3. Total Phenol : 0,15 - 7,96 mg/dl
d. Metode cepat untuk mendeteksi adanya phenol dan turunannya dengan uji ferric chloride : beberapa tetes ferric chloride pada urin yang mengandung senyawa phenol akan berwarna biru atau ungu, tetapi kadang-kadang urin normal juga menunjukkan hasil positif.
e. Urin yang mengandung phenol dapat terdeteksi pada pekerja di industri. Jika ekskresi phenol 0,5 - 81,5 mg/liter menunjukkan adanya keracunan.
f. Phenol, kresol dan xilenol dapat di deteksi serum dengan menggunakan NPLC.
EKG: aritmia jantung (takhikardi supraventikular dan ventrikular) Foto
dada.


H. Hipotesis

H0 : Tidak ada perbedaan kemampuan adsorpsi arang sono dan tempurung kelapa dalam penurunan kadar phenol.
H1 : Ada perbedaan kemampuan adsorpsi arang sono dan tempurung kelapa dalam penurunan kadar phenol.

BAB 3
METODE PENELITIAN

A. DESAIN PENELITIAN
Berdasarkan jenisnya penelitian ini bersifat pra eksperimental, yaitu penelitian yang hanya mengandung beberapa ciri dari eksperimen dalam jumlah yang tidak besar.
Desain penelitian yang digunakan adalah “One Group Pre-test Post-test Design” dimana suatu kelompok perlakuan dikenakan dua kali pengukuran. Pengukuran pertama dilakukan sebelum perlakuan dan pengukuaran kedua dilakukan sesudah perlakuan, desain penelitian dapat digambarkan sebagai berikut :

Pre Test Perlakuan Post Test
To X T1

Keterangan :
To = Pengukuran kadar phenol awal.
X = Perlakuan sampel yang berupa penyaringan dengan dua jenis
arang.
T1= Pengukuran kadar phenol setelah perlakuan.


B. POPULASI DAN SAMPEL
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah air sungai yang mengandung phenol dengan konsentrasi 0.06 mg / liter ( 1 ml ), sebanyak ± 18 liter, dibagi menjadi 2 bagian, masing-masing bagian sebanyak 9 liter.
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah air sungai depan kampus STIKes Surya Mitra Husada Kediri yang mengandung kadar phenol 0.06mg/l.

C. CARA PENGAMBILAN SAMPEL
1. Air diambil dari sungai dengan menggunakan jerigen 20 lt.
2. Air dimasukkan dalam galon (1) air sebanyak 18 lt.
3. Kran pada galon 1 dibuka kemudian air dialirkan ke galon 1 ( media ATK) dan galon 2 ( media AS) secara bersama - sama sampai galon terisi penuh.
4. Setelah selang waktu 5 menit, kemudian kran pada galon 1 dan galon 2 dibuka bersama - sama kemudian dimasukan ke dalam botol sampel 50 ml.
5. Masing – masing galon ( 1 dan 2 ) diambil sampel sebanyak 10 botol dengan interval waktu 5 menit.
6. Setelah 20 botol terisi semua, dimasukkan dalam termos dan siap dikirim ke laboratorium.

E. DEFINISI OPERASIONAL

Variabel Definisi Parameter Alat Ukur Skala
o Jenis arang (Variabel Bebas)
Konsentrasi phenol
(Variabel terikat)

Kemampuan
Adsorspi a. Arang yang terbuat dari Tempurung Kelapa dan Kayu Sono melalui pembakaran dalam suatu ruangan tanpa adanya oksigen.
b. Angka yang menunjukkan konsentrasi phenol dalam air yang dinyatakan dengan satuan mg/l.
c. Daya serap dari media penyaring yang ditunjukan dengan angka konsentrasi phenol sesudah melewati media penyaring 1. Arang tempurung kelapa
2. Arang kayu sono

Konsentrasi phenol sebelum dan sesudah adsopsi ATK dan arang sono (AS)

Prosentase penurunan konsentrasi phenol setelah melewati media penyaring
Observasi

F. PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA
a. Pengumpulan Data.
Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari hasil pemeriksaan ph, suhu, dan waktu sebelum dan sesudah pengolahan dan untuk mengetahui kadar phenol malalui uji laboratorium.
2. Analisa Data
Data yang diperoleh dari hasil penelitian kemudian dianalisis secara statistik menggunakan tabel dan grafik, untuk mengetahui perbedaan dari masing-masing arang aktif maka peneliti melakukan T Test dengan menggunakan bantuan program SPSS 12.0 for Windows.
G. VARIABEL PENELITIAN
1. Variabel bebas adalah variabel yang mendapat perlakuan penelitian termasuk dalam variabel ini adalah jenis arang.
2. Variabel terikat adalah variabel yang diharapkan mengalami perubahan setelah dilakukan perlakuan. Dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah penurunan konsentrasi phenol.

BAB IV
HASIL PENELITIAN


A. DATA UMUM
1. Gambaran Kondisi Air Sungai Tirtoudan
Air yang dipilih dalam penelitian ini adalah air sungai yang terdapat di depan kampus stikes . Sebagai tempat pembuangan limbah rumah tangga dari rumah - rumah yang berada disekitar sungai, termasuk juga tempat pembuangan limbah tahu dari salah satu industri rumah tangga yang ada disekitar sungai . Dari pemikiran inilah maka peneliti mengambil sampel air sungai tersebut untuk dijadikan bahan penelitian yang kemungkinan besar tercemar bahan – bahan kimia termasuk didalamnya phenol
2. Penelitian Pendahuluan
Pada penelitian pendahuluan ini dilakukan analisa awal terhadap kadar phenol yang terdapat pada air sungai di dekat lokasi kampus , untuk memastikan kadar phenol yang terkandung didalamnya. Setelah diambil sampel 50 ml kemudian diperiksakan ke laboratorium hasilnya adalah air mengandung phenol 0.07 mg/l.
3 Penelitian Lanjutan
Hasil penelitian yang disajikan disini adalah kadar phenol yang terdapat pada air sampel / sungai sebelum dan sesudah dilakukan penyaringan dengan 2 macam arang yaitu Arang Tempurung Kelapa (ATK), dan Arang Sono (AS). Pada percobaan ini dilakukan sepuluh kali pengukuran dengan interval waktu 5 menit
B. HASIL PENGUKURAN KADAR PHENOL SEBELUM DAN SESUDAH ADSORPSI DENGAN ARANG TEMPURUNG KELAPA ( ATK) DAN ARANG SONO (AS)
1. Arang Tempurung kelapa
Tabel IV.1 Hasil Pengukuran Kadar Phenol Sebelum Dan Sesudah Adsorpsi Dengan Arang Tempurung Kelapa ( ATK )

Replikasi Sebelum Penyaringan
( mg / liter ) Sesudah Penyaringan
( mg / liter )
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10 0,06
0,06
0,06
0,06
0,06
0,06
0,06
0,06
0,06
0,06 0.03
0.02
0.03
0.03
0.02
0.03
0.03
0.03
0.03
0.02
Jumlah 0.60 0.27
Rata-rata 0,06 0.03

Dari tabel IV.1 dapat diketahui kadar phenol sebelum dilakukan penyaringan rata-rata adalah 0,06 dan setelah dilakukan penyaringan dengan kadar phenol berkisar antara 0,02 mg/l sampai 0,03 mg/ l dengan rata-rata 0.03 mg/ l.




2. Arang Sono
Tabel IV.2 Hasil Pengukuran Kadar Phenol Sebelum Dan Sesudah Proses Adsorpsi Dengan Arang Sono (AS)
Replikasi Sebelum Penyaringan
( mg / liter ) Sesudah Penyaringan
( mg / liter )
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10 0,06
0,06
0,06
0,06
0,06
0,06
0,06
0,06
0,06
0,06 0,03
0,04
0,03
0,05
0,03
0,03
0,05
0,05
0,03
0,04

Jumlah 0.60 0.38
Rata-rata 0,06 0,04

Dari tabel IV.2 dapat diketahui bahwa kadar phenol sebelum dilakukan penyaringan rata-rata adalah 0,06 mg/l dan sesudah dilakukan Adsorpsi dengan Arang Sono (AS ) kadar phenol berkisar antara 0.03 mg/l sampai 0,05 mg/l dengan rata-rata 0,04 mg/l.
C. PROSENTASE PENURUNAN KADAR PHENOL SETELAH ADSORPSI DENGAN ARANG TEMPURUNG KELAPA DAN ARANG ASONO

B. KEMAMPUAN ADSORSPSI ARANG TEMPURUNG KELAPA DALAM MENURUNKAN KADAR PHENOL
Untuk menghilangkan bahan-bahan terlarut dalam air, biasa menggunakan arang aktif dengan mengubah sifat permukaan partikel karbon melalui proses oksidasi. Partikel ini akan menyerap bahan-bahan organik dan akan terakomulasi pada bidang permukaannya. Pada umumnya ion kimia organik dapat diturunkan dengan arang aktif ( R.D. Rose). Bahan arang aktif dapat diperoleh dari bahan buangan Tempurung Kelapa yang dibuat melalui proses pembakaran secara karbonasi / aktifasi dalam tempat tertutup dan dialirkan udara untuk menghilangkan hidrokarbon yang menghalangi penyerapan zat organik (Steel, E.W and J. Mc Ghee ). Ada 2 tipe arang aktif yang biasa digunakan dalam praktek pengolahan air minum yaitu :
1. Karbon aktif berbentuk bubuk.
2. Karbon aktif berbentuk butiran atau granular.
Karbon aktif berbentuk bubuk merupakan bubuk hitam yang dimasukkan dalam keadaan kering atau sebagai bubur. Dosis yang digunakan umumnya antara 1-100 ppm. Arang aktif bentuk butiran digunakan sebagai lapisan dengan diameter > 0,1 mm. (Metcalf and Eddy,1972).
Penelitian yang dilakukan Meilita Triana Sembiring, dan Tuti Sarma Sinaga, (2003). Menyimpulkan bahwa arang aktif dapat mengadsorbsi gas dan senyawa – senyawa kimia tertentu atau sifat adsorpsinya selektif, tergantung pada besar atau volume pori – pori, luas permukaan dan bahan baku yang digunakan. Daya serap arang aktif sangat besar, yaitu 25 – 100 % terhadap senyawa organik / anorganik.
Dalam percobaan kali ini, Arang Tempurung Kelapa ( ATK ) dalam bentuk butiran sebagai media penyerap phenol ( Adsorben ). Pengambilan sampel sebanyak 10 kali dengan interval waktu 5 menit, hasil laboratorium. menunjukan rata – rata penurunan setelah proses penyaringan adalah 0.03 mg/l dari kandungan awal 0.06 mg/l dan total prosentase penyerapan 55 % .
Dari hasil ini ternyata Arang Tempurung Kelapa ( ATK ) mampu mengabsorpsi phenol 55 % . Padahal harapan dari peneliti Arang Tempurung Kelapa ( ATK ) dapat mengabsorpsi hingga 80 – 100 % . Hal ini mungkin disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :
1. Proses pembuatan arang kurang sempurna sehingga proses pembentukan pori – pori kurang halus dan lebar
2. Proses penumbukan arang dalam bentuk butiran / granular mungkin terlalu besar sehingga plat – plat yang ada didalam arang masih utuh dan tidak pecah dan hal ini berpengaruh terhadap proses penyerapan .
3. Ketebalan media yang hanya 20 cm mungkin masih kurang tebal jika dibandingkan dengan volume dan debit air yag masuk. sehingga tidak imbang antara volume air yang masuk dengan media arang.
4. Dengan interval waktu 5 menit mungkin terlalu cepat, sehingga proses penyerapan dari Arang kurang maksimal. Mungkin dengan penambahan interval waktu yang agak lama ( misal.10 – 20 menit ) proses penyerapan akan lebih maksimal.
C. KEMAMPUAN ADSORSPSI ARANG SONO (AS) DALAM MENURUNKAN KADAR PHENOL
Menurut (Sumardi, 2007). Adsorben yang sering digunakan dalam proses adsorpsi adalah tanah pemucat dan karbon aktif. Karbon aktif sangat baik digunakan sebagai adsorben pada larutan yang mengandung gugus karboksil, phenol, karbonil, normal laktom dan Asam karboksilat anhidrida. Karbon aktif yang sering digunakan adalah bahan baku batu bara, tempurung kelapa, dan bahan kayu yang berstuktur keras.
Kayu berstruktur keras banyak macam maupun jenisnya , misal kayu jati, kayu lamtoro gung, kayu waru , dan lain sebagainya. Karena keberadaan kayu – kayu tersebut semakin langka dan kalaupun ada harga mahal maka akan semakin kesulitan jika akan menggunakannya sebagai arang aktif.
Untuk itu peneliti mencoba membuat arang aktif dari kayu berstruktur keras sebagai arang aktif atau sebagai pembanding dari arang tempurung kelapa , dan dalam penelitian ini menggunakan kayu sono keling sebagai bahan arang aktif, dengan pertimbangan disamping teksturnya keras diharapkan daya adsorpsinya juga besar terhadap zat terarut dalam hal ini phenol. Tetapi setelah dilakukan penyaringan kemudian diambil sampel sebanyak 10 kali dengan interval waktu 5 menit, hasil laboratorium menunjukkan bahwa arang sono ternyata hanya mampu menyerap phenol rata- rata 0.04 mg/l dari kadar awal phenol 0.06 mg/l atau total prosentase penyerapan 36,67 %.
Menurut peneliti ini mungkin disebabkan :
1. Bahan dasar terlalu keras sehingga proses pembuatan arang / proses pembakaran kurang sempurna
2. Proses penumbukan arang dalam bentuk butiran / granular mungkin kurang merata ada yang terlalu keras / terlalu lembut sehingga butiranya tidak seragam
3. Ketebalan media yang hanya 20 cm mungkin masih kurang tebal jika dibandingkan dengan volume dan debit air yag masuk. sehingga tidak imbang antara volume air yang masuk dengan media arang.
4. Dengan interval waktu 5 menit mungkin terlalu cepat, sehingga proses penyerapan dari Arang kurang maksimal. Mungkin dengan penambahan interval waktu yang agak lama ( misal.10 – 20 menit ) proses penyerapan akan lebih maksimal.


D. PERBANDINGAN KEMAMPUAN ADSORSPSI ARANG TEMPURUNG KELAPA ( ATK ) DAN ARANG SONO DALAM MENURUNKAN KADAR PHENOL
Dari tabel IV.1,dan IV. 2 menunjukan Arang Tempurung Kelapa dan Arang Sono sama-sama mempunyai daya adsorpsi terhadap zat organik dalam hal ini yaitu phenol sebagai bahan percobaan. Sehingga dari kedua arang tersebut layak dipakai sebagai bahan adsorbent.Tetapi kemampuan dari kedua jenis arang tersebut dalam menyerap zat organik yaitu phenol mempunyai keseimbangan yang berbeda-beda,
Arang Tempurung Kelapa rata – rata mampu menyerap kadar phenol sebanyak 55.00 % sedangkan Arang Sono hanya mampu menyerap 36.67% Dari analisa persentase kadar phenol yang terserap oleh arang dapat diketahui bahwa Arang Tempurung Kelapa (ATK ) mempunyai daya serap yang lebih tinggi dibandingkan dengan arang kayu sono Sehingga dalam penelitian ini Arang Tempurung Kelapa ( ATK ) lebih baik dalam menyerap kadar phenol dibandingkan dengan Arang Sono ( AS ).. hal ini kemungkinan dapat disebabkan karena, ukuran partikel arang tempurung kelapa lebih halus dan pori – porinya lebih besar / luas.
Proses pembuatan arang dimungkinkan juga dapat berpengaruh terhadap daya adsorpsi dari kedua jenis arang dimana tiap jenis arang memerlukan suatu perlakuan yang berbeda dalam proses pembuatannya. Suhu pemanasan pada proses pembakaran maupun proses aktifasi dalam pembuatan arang mungkin juga berpengaruh terhadap pembentukan komponen arang. Adapun komponen arang dikatakan cukup baik bila hasil pengarangan 22 %, kadar abu 4,5 %, bagian yang hilang 19,5 % dan karbon terikat 72,6 % ( Balai Penelitian Dan Industri, 1988 ). Pada penelitian ini tidak dilakukan pengamatan pada proses pembuatan arang karena bahan arang yang digunakan merupakan jenis arang tradisional yang diolah secara sederhana sebagai arang aktif. Ukuran butiran dari arang yang digunakan sebagai bahan adsorbent dimungkinkan juga berpengaruh pada daya adsorpsi dari arang,.
Terbentuknya lapisan pada permukaan arang lebih cepat bila kontak dengan larutan dengan kadar phenol awal lebih tinggi dan akan menyulitkan proses penyerapan selanjutnya. Jika permukaan arang sudah tertutup oleh partikel-partikel besar maka partikel-partikel lain sulit untuk menembus permukaan arang walaupun sebetulnya dibagian dalam lapisan tersebut masih tersedia untuk tempat phenol. Semakin besar konsentrasi awal phenol dalam larutan berarti ukuran partikel menjadi relatif besar sehingga pada saat penyerapan pertama permukaan arang tersebut lebih cepat tertutup oleh lapisan dan akibatnya proses penyerapan selanjutnya akan terganggu.






BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Arang Tempurung Kelapa ( ATK ) dan Arang Sono ( AS ) sama sama mempunyai daya serap / adsorpsi terhadap phenol
2. Arang Tempurung Kelapa (ATK) mempunyai daya adsorpsi 55 %
3. Arang Sono ( AS ) mempunyai daya adsorpsi 36.67 %
4. Jika dibandingkan , Arang tempurung Kelapa lebih baik dari Arang Sono (AS ) dalam proses adsorspsi terhadap phenol
5. Pori – pori Arang Tempurung Kelapa ( ATK ) lebih halus dan lebar sehingga penyerapanya lebih baik daripada Arang sono ( AS )

Saran